Agama Dan Budaya

source: healdarked(instagram)


Agama dan Budaya (1)

Ketika Nabi Muhammad saw bepergian naik unta, apakah naik unta saat bepergian adalah sebuah ajaran agama? Ketika Nabi mengajarkan naik kuda dan memanah sebagai keahlian bela diri, apakah berarti umat Islam saat ini harus belajar berkuda dan memanah?

Ketika Nabi mengajarkan sebuah resep masakan yang beliau makan saat itu, apakah resep itu sebuah ajaran agama? Ketika Nabi menggunakan siwak untuk membersihkan gigi beliau, apakah itu berarti umat Islam harus memakai siwak untuk membersihkan gigi?


Kita sudah seharusnya bisa memilah dan berusaha memahami, mana itu sunnaturrasul sebagai ajaran agama, dan mana tindakan Nabi yang berdasarkan budaya atau teknologi saat itu. Alangkah terperangkapnya kita pada kebudayaan arab dan teknologi pada masa itu, jika kita tak bisa memilah mana ajaran agama dan mana itu budaya.


Perintah Nabi, bukan kita berpakaian seperti orang arab, tapi agar kita menutup aurat. Kita boleh pakai sarung, dan tetap berarti menjalankan perintah Nabi. Perintah Nabi, bukan kita belajar memanah, tapi agar kita belajar bela diri dan survival. Kita boleh belajar senapan atau senjata api, dan tetap berarti menjalankan perintah Nabi.


Perintah Nabi, kita menjaga kebersihan termasuk kebersihan tubuh. Kita tak harus pakai wewangian arab dan siwak, kita punya banyak pilihan parfum saat ini dan juga sikat dan pasta gigi. Dan semua kita jalankan sebagai perintah Nabi. Ketidakmampuan membedakan mana perintah agama dan mana budaya dan kondisi saat itu hanya akan menjebak

umat Islam pada masa lalu dan sebagian menjadi kearab-araban yang bahkan orang muslim arab sekarang pun sudah tak seperti itu.



Agama dan Budaya (2)


Jika dulu Nabi pernah kerja jadi penggembala ternak dan berdagang, kira-kira apakah boleh kita sebut semua pekerjaan halal itu sunnah? Atau hanya

kerja sebagai penggembala ternak dan pedagang yang disebut sunnah? Pemikiran sempit tentang sunnah hanya menghasilkan ajaran agama yang sempit pula. Tapi jika kita berpikir luas, maka kita bisa ambil kesimpulan bahwa bekerja sebagai programmer komputer, pekerja pabrik, ataupun polisi, juga sunnah Nabi.


Jika Nabi pernah memerintahkan untuk belajar memanah, maka belajar karate atau pencak silat juga merupakan ajaran Nabi karena itu bisa diartikan sebagai ilmu bela diri. Bukan ajaran memanahnya yang diajarkan, tapi bela dirinya. Belajar naik motor, mengemudikan mobil, mengemudikan helikopter dan pesawat, juga merupakan ajaran Islam karena Nabi pernah mengajarkan agar menguasai kendaraan saat itu yaitu kuda. Bukan ajaran berkudanya yang diajarkan, tapi menguasai ilmu kendaraannya.


Coba kita lihat saat ini, betapa banyak umat Islam saat ini yang terjebak menganggap segala hal yang dicontohkan Nabi dianggap sunnah dalam arti yang sempit tapa berusaha menggali apa sebenarnya pesan yang disampaikan Nabi. Misalnya saja saat ini ada gerakan untuk belajar memanah atau belajar berkuda yang dikemas seakan-akan itulah ajaran Nabi yang harus diikuti saat ini. Bikin kursus berkuda atau memanah bukan hal buruk, tapi ketika mengesankan bahwa orang Islam harus belajar itu, kurang benar juga.


Buka bisnis kursus berkuda atau memanah sebenarnya sama saja dengan kursus olah raga yang lain. Coba misalnya nanti ada sekelompok orang yang anti-sekolah karena sekolah tidak diajarkan Nabi. Mereka hanya membuka kursus menggembala ternak dan berdagang. Pekerjaan lain dianggap bukan sunnah Nabi.


Bertanam padi bisa dianggap bukan ajaran Nabi karena seharusnya kita semua menanam kurma dan gandum sesuai yang dijalani Nabi.


Apakah Anda akan ikut pemikiran sunnah seperti itu? Mengikuti sunnah dari sisi budaya tanpa berusaha memahami ajaran agama yang sebenarnya Nabi ingin sampaikan? Kalau memang begitu cara berpikir Anda,

apakah Anda sudah siap jual motor dan mobil untuk beli unta?

Post a Comment