Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan berjalan, aku mulai terbiasa melewati hari ditemani kesendirian. Aku mulai terbiasa sarapan dengan singkong rebus buatan Nenek, aku mulai terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu dan mengepel lantai sepulang sekolah, aku pun mulai jarang menangis selepas mengaji. Selain karena aku yang semakin lancar membaca, aku juga sudah terbiasa dengan nada bicara Nenek yang tinggi saat memberi arahan dalam mengaji. Aku yang tadinya sangat energik dan suka bercerita mulai berubah menjadi pribadi yang tenang dan pendiam, itu juga yang menjadi sebab Nenek lebih jarang marah padaku.
Aku tak tahu ini adalah hal baik atau buruk, tapi sekarang aku sudah jarang menangis bila terkena pukulan Nenek, aku tak merasa takut saat dibentak Nenek, saat Nenek pulang dari ladang pun ia tak memiliki alasan untuk marah karena semua pekerjaan rumah sudah aku selesaikan tanpa harus ia suruh. Aku sudah lebih dewasa sekarang, aku mulai tahu tugasku, sekarang aku pun tahu jelas alasan Nenek membebankan tugas rumah kepadaku bukan untuk membebani apalagi menyiksaku, ia hanya ingin aku lebih mandiri dan tak jadi anak yang manja. Aku sadar bahwa nenek sudah sangat capek mengurusi ladang seharian sehingga tak memiliki tenaga lebih untuk membersihkan rumah, sekarang aku tahu alasan Nenek hanya merebus singkong setiap pagi karena ia harus bergegas ke ladang sebelum panas menyerang.
Kini, mataku mulai terbuka sepenuhnya, saat kuperhatian Nenek ternyata sudah sangat tua, kulitnya sudah keriput, rambutnya pun rontok dan berwarna hitam keputihan, aku tahu betul karena aku lah yang setiap hari membersihkan kamar nenek. Di usianya yang sudah setua itu, ia masih mampu mengurus ladang sendirian walaupun harus berlumuran keringat dan debu setiap harinya. Saat hujan tiba, yang aku ingat sekarang bukanlah ibu atau ayah, aku khawatir dengan Nenek yang tak kunjung pulang padahal hujan diluar turun sangat deras. Saat ada yang mengetuk pintu belakang, aku tahu itu adalah Nenek, aku pun bergegas menyambutnya pulang, nenek yang sudah basah kuyup karena hanya mengandalkan pelepah pisang untuk berlindung dari hujan sama tak sekali memperlihatkan rasa lelahnya di wajahnya, ia malah mengomel dengan nada khasnya “dari tadi ngapain aja? singkong sisa tadi pagi dimakan gak? jangan bilang ngosongin perut dari tadi. Ini lagi nih, bukannya langsung ganti baju abis pulang sekolah teh” sewot-nya. “udah nek, tadi teh abis nyuci piring, sengaja pake seragam ini sekalian kotor aja takutnya basah kecipratan kecipratan aer, da besok ganti seragam jadi sekalian kotor, lumayan juga ngurang-ngurangin cucian” ujarku, “yaudah atuh ganti baju sekarang, udah kan nyuci piringnya? ini nenek tadi dikasih jagung bakar sama temen waktu di ladang, hayu kita makan barengan” katanya.
Aku sudah sepenuhnya paham, tidak ada sama sekali maksud jahat di setiap perlakuan Nenek terhadapku, dia yang dalam keadaan begitu lelah karena seharian bekerja di ladang masih sempat-sempatnya memikirkanku. Dia tahu aku sangat suka jagung bakar, itu sebabnya satu buah jagung bakar pemberian temannya yang sebenarnya hanya cukup untuk satu orang bersikeras dia bawa pulang walau di jalan harus menerjang hujan terlebih dahulu hanya demi membawa makanan kesukaan cucunya. Dia tak memperdulikan perutnya yang kosong keroncongan sepanjang hari diladang, dia tak memperdulikan badannya yang sudah semakin bungkuk terkena angin hujan, begitu sampai ke rumah pun hal yang pertama ia tanyakan adalah tentangku, makanku, pakaianku, bukan tentang dirinya. Sungguh tak habis pikir aku dibuatnya.
Berkatnya, sekarang aku sudah jarang memikirkan ibu saat hujan turun. Saat malam tiba, aku bisa tidur dengan normal tanpa harus menunggu ibu pulang hingga ketiduran seperti dulu, saat pagi datang dan mendapati ayah dan ibu yang sudah pergi bekerja, aku pun sudah tak sedih lagi. Sekarang, aku jauh berbeda dibanding aku yang dulu, aku sudah bisa berdamai dengan diriku, berteman dengan kesendirian tanpa merasa kesepian.
Itulah cara dia mendidikku, dia menang tak memiliki suara lemah lembut atau kata-kata manis seperti kebanyakan nenek pada umumnya, tapi justru itulah yang membuatku tumbuh dari segi fisik dan mental beberapa kali lebih cepat dibanding teman seumuranku. Dibalik sikapnya yang dingin, dia selalu memperhatikanku, dibalik perlakuannya yang acuh, dia sangat memperdulikan aku dibanding dengan dirinya sendiri. Terimakasih nek, maafkan cucumu ini yang sempat berpikiran negatif tentangmu.

Posting Komentar