Beradaptasi Pada Ketidakpastian

source: healdarked(instagram)


Dibanding memodifikasi infrastruktur, ada baiknya orientasi perbaikan itu berfokus pada modifikasi perilaku manusianya. Costnya mungkin akan jauh lebih mahal dalam skala jangka pendek, tetapi ia merupakan solusi jangka panjang yang efektif dan bertahan lama.

Contoh dari infrastruktur ini misalnya akses internet. Indonesia yang aksesnya relatif cukup terbuka akan merasakan keterkejutan jika suatu saat beberapa layanan internet tiba-tiba diblokir. Kominfo mungkin akan jadi sasaran empuk cacian dan makian para pengguna internet indonesia yang kita semua tahu bagaimana garangnya para pengguna jejaring sosial media entah itu warganet Tiktok, Instagram bahkan Facebook yang penggunaan internetnya sudah rutin setiap hari bagai minum obat anjuran dokter.


Tapi coba kita perhatikan China. Kita bahkan tidak bisa mengakses berbagai layanan Google dan bahkan banyak layanan mainstream internet lainnya.

Namun di tengah keterbatasan itu, secara asimetris saat ini China mampu mengimbangi adikuasa Amerika Serikat.


Alasannya sederhana, China paham bagaimana caranya memodifikasi perilaku warganya dan mereka mampu melakukan itu. Suatu kemampuan yang jarang dimiliki oleh negara-negara demokrasi, apalagi negara demokrasi kelas menengah.


Contoh lainnya tentang infrastruktur jalan. Orang yang baru pertama kali terkena macet pasti akan memaki-maki selama perjalanan, tentunya. Sudah sangat bisa dipastikan tanpa harus ada riset mendalam ataupun penelitian apapun, kita sendiri lah contoh langsungnya. Namun seiring waktu berjalan kemacetan itu akan memodifikasi perilaku para penggunanya. Semakin sering terkena macet maka semakin berkurang pula makiannya. Coba saja kita bandingan Masyarakat kota besar seperti Jakarta atau Bandung dengan masyarakat kota kecil atau kabupaten dalam menghadapi dan menyikapi macet. Seberapa jauh perbedaan mereka menanggapi hiruk pikuk kemacetan dan segala macam kegilaannya.


Tentunya orang yang sudah terbiasa terpapar macet akan lebih matang dari segi mental dan fisiknya. la pun mengubah pola dan jadwal berkendara. Memperhitungkan waktu macet dengan berangkat lebih awal agar sampai tepat waktu. Sehingga orang yang setiap hari mengkonsumsi macet ini 'terasa' lebih disiplin daripada yang lainnya.


Bahkan juga soal listrik yang sudah jadi seperti nadi kehidupan. Dalam waktu 24 jam, 1 bulan, 2 bulan mungkin kita akan benar-benar merasa sekarat hidup tanpa listrik. Namun cepat-lambat kita akan sampai pada titik di mana kita akan memodifikasi perilaku secara berangsur-angsur.


Ini bukanlah soal primitif atau tidak primitif, ini hanyalah soal ketidakmampuan kita untuk tetap produktif di tengah keterbatasan. Tentang imunitas diri kita terhadap terpaan kejutan dan ketidakpastian yang merupakan sifat alami dari masa depan.


Dan pada akhirnya mungkin kita akan sampai pada kesimpulan bahwa dengan ataupun tanpa adanya infrastruktur dan teknologi, sesungguhnya hidup kita akan baik-baik saja. Tinggal secepat apa perilaku serta pola pikir kita mampu dimodifikasi dan beradaptasi?

Post a Comment