Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah Datuk Indom, atau yang biasa kita kenal dengan nama populer Buya Hamka, ia lahir di Sumatera Barat pada 17 Februari pada tahun 1908.
Buya Hamka merupakan pahlawan nasional asal Sungai Batang yang amat sangat multitalenta. Salah satunya dikenal sebagai sastrawan angkatan Pujangga Baru. Tak tanggung-tanggung pula, 100 lebih buku berhasil ditulisnya. Salah satu yang sangat populer adalah Novel yang berjudul Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dua novelnya yang terbit pada tahun 1938 itu bahkan berhasil diangkat menjadi film, yang filmnya pun popularitasnya tak kalah gila dengan buku novelnya.
Buya Hamka juga adalah seorang ulama. Ia merupakan tokoh Muhammadiyah dan Ketua pertama Majelis Ulama Indonesia. Buya Hamka lah juga yang berhasil membangun Masjid Agung Al-Azhar dan berkhutbah di sana. Dari ceramahnya tiap subuh, Tafsir Al-Quran Al-Azhar disusunnya. Tafsir 30 jilid (6159 halaman) itu dirampungkannya saat dipenjarakan oleh Presiden pertama kita Ir. Soekarno.
Menjadi anggota Partai Masyumi, Hamka mengkritik gagasan Demokrasi Terpimpin Soekarno. Meski keduanya punya hubungan dekat, Hamka akhirnya dipenjara atas perintah Soekarno pada tahun 1964, tanpa proses peradilan. Meski dalam keadaan sakit saat Di Penjara, Buya Hamka berhasil merampungkan Tafsir Al-Azhar yang berjumlah 30 jilid tersebut. Hingga menjelang berakhirnya kekuasaan Soekarno, Buya Hamka kemudian dibebaskan pada Mei 1966.
Walaupun ia dipenjarakan dengan sangat tidak adil oleh Presiden Soekarno, tak membuat Buya Hamka mendendam. Pada tahun 1970, atas permintaan di wasiat Soekarno, Buya Hamka jadi imam yang menyolatkan jenazahnya. Ia pun akhirnya menyusul sahabatnya Soekarno pada 24 Juli 1981 diumur 73 tahun.
Sedikit banyaknya, Buya Hamka ikut andil dalam pembentukan warna dan gaya penulisan saya pribadi sebagai Penulis awam menjadi lebih puitis dan mendayu, berkat melihat kisah hidup Buya Hamka dan membaca beberapa bukunya, banyak hal yang bisa kita pelajari, salah satunya bahwa hal paling besar yang menjadikan seseorang menjadi bijak sejatinya adalah rasa duka. Di saat-saat terbawah, ia akan menyadari banyak hikmah. Di masa-masa tak mengenakkan, ia akan belajar mensyukuri pencapaian terkecil.
Tidak ada yang terlihat baik-baik saja jika seorang ada dalam timeline terpuruknya. Wajahnya kusut, abai pada penampilan dan mungkin tak peduli orang mengomentarinya menangis di pinggir jalan. "But it's those hours that make us what we are", justru masa itu yang membentuk kita.
Seorang yang patah hati akan menjadi pujangga tiba-tiba, orang yang sedang terkena masalah akan makin panjang doa dan pengharapannya. Orang tua yang punya anak 'spesial' akan lebih bisa mensyukuri pencapaian kecil yang orang tua lain anggap biasa pada anak-anaknya.
At your lowest, you realize a lot. Di hari-hari duka itulah kita akan menyadari banyak pelajaran. Dan benarlah kata Buya Hamka, kelak hari penuh derai air mata inilah yang akan kita tertawai dengan bangga di masa jaya. Lega, karena telah berhasil melalui tanpa kabur dan lari.

Posting Komentar