Jek menuruti wasiat Sang Kakek dengan tidak mencoba mencari orang tuanya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, Jek pun merasa kesepian ditengah kesendiriannya. Di tengah kesepiannya, Jek hanya bisa terdiam di depan pekarangan rumah sembari melihat Pelangi yang muncul setiap seminggu sekali, hanya pada momen itulah Jek merasa rasa sepi dan rindu kepada kedua orang tuanya sedikit terobati.
Di hari-hari biasa, Jek sibuk melakukan aktivitas seperti biasa, ia mencari makanan dengan berburu plankton di Palung dekat rumahnya. Jek biasa berburu plankton sedari pagi hingga sore hari, plankton hasil tangkapannya dijual ke pasar dan sebagian lagi ia simpan untuk stok makanan dirumah.
Terkadang, bila sedang jenuh Jek pun bermain bersama Badru si Ubur-ubur dan Ubed si Ikan Buntal. Mereka adalah 2 orang sahabat yang sangat dekat dengan Jek. Disuatu hari saat mereka bertiga berjemur di tengah siang sembari melihat ke arah Pelangi, Jek terpikir untuk mengejar pelangi seperti yang dilakukan kedua orang tuanya. Tetapi, ide itu langsung ditolak dengan keras oleh kedua sahabatnya itu, entah apa sebabnya.
Badru si Ubur-ubur adalah seorang ahli penganyam jaring yang jaringnya biasa Jek gunakan untuk menangkap plankton di Palung, sementara Ubed si Ikan Buntal adalah ahli peta yang hafal hampir semua seluk beluk Laut dan Palung. Mereka bertiga adalah tiga sekawan yang saling melengkapi dan selalu bersama.
Disuatu malam, Jek tiba-tiba memimpikan kedua orang tuanya. Ia pun langsung terbangun dan merasa itu adalah sebuah pertanda akan sesuatu. Kebetulan sekali esok pagi adalah hari dimana Pelangi muncul. Tanpa pikir panjang, Jek pun segera bersiap dan memutuskan untuk mengejar pelangi seperti yang dilakukan kedua orang tuanya.
Siang hari itu saat Badru dan Ubed mendatangi rumah Jek, mereka hanya mendapati sebuah surat yang ditulis Jek berisikan kabar bahwa Jek yang memutuskan pergi mengejar Pelangi. Saat Ubed dan Badru membaca surat dari Jek, Jek sendiri sudah berada ditengah perjalanan dalam misinya mengejar Pelangi.
Hari demi hari berjalan, akhirnya Jek pun sampai di ujung Pelangi. ia tak menemukan apapun selain dua gundukan pasir yang bersebelahan, Jek hanya bisa terdiam kebingungan untuk beberapa saat. Tak lama berselang Ubed dan Badru datang menghampiri Jek, mereka ternyata menyusul Jek sebegitu tau kemana Jek pergi. Jek yang masih kebingungan disodori sebuah surat oleh Ubed dan Badru, surat itu merupakan surat wasiat dari Kakek Jek. Jek pun bergegas membaca surat dari Kakeknya yang berisikan:
“Jek Cucuku tersayang, maafkan Kakekmu ini yang hingga akhir hayatnya merahasiakan sesuatu padamu. Mungkin saat surat ini kau baca, kau sedang berada di ujung Pelangi didepan dua gundukan pasir. Jek, Ayah dan Ibumu meninggalkanmu karena terkena penyakit yang menular, mereka dengan berat hati memutuskan meninggalkan desa karena tak mau menularkan penyakitnya kepadamu, anaknya tersayang. Dua gundukan pasir itu adalah makam kedua orang tuamu, mereka akhirnyavmenyerah setelah mencoba berbagai cara demi menyembuhkan penyakitnya. Harusnya Kakekmu ini yang mengantarkanmu langsung ke makam kedua orang tuamu, tapi saat itu kau masih terlalu kecil untuk tahu fakta yang sesungguhnya mengenai kedua orang tuamu. Mereka tak meninggalkanmu, mereka sangat-sangat menyayangimu, rasa sayang mereka sangat besar hingga tanpa pikir panjang meninggalkan kampung tercintanya demi keselamatanmu seorang. Jek cucuku tersayang, maafkan Kakek, Ayah dan Ibumu, kami sangat mencintaimu”.
Jek pun hanya bisa duduk bersimpuh sambil menangis tersedu-sedu sembari dipeluk kedua sahabatnya. Hal yang bisa kita petik dari cerita Jek si Kuda Laut adalah sebegitu besarnya rasa cinta orang tua kepada anaknya, mereka berani mempertaruhkan segalanya, meninggalkan semua hal hanya demi keselamatan anaknya tercinta.

Posting Komentar