Sebilah mata pedang tidak membutuhkan sebatang kayu yang hanya akan menghambat ketajamannya. Namun di lain sisi, sebatang kayu yang dinilai menghambat dapat menjadi pengendali berupa gagang agar ketajaman sang pedang dapat diadu dengan pedang lain.
Sama dengan banyaknya ilmu di sekolah yang kita rasa tidak kita butuhkan bahkan terasa menghambat kreativitas diri. Dasarnya diberi dan diajarkan agar kita mampu bersaing dengan "mata pedang" lainnya di dunia nyata.
Dua orang seniman diminta raja untuk melukis wajah dirinya di luar kastil sehingga seluruh rakyatnya dapat mengetahui keagungan dirinya. Sang Raja minta kedua lukisan selesai dalam waktu sepekan dan berjanji akan memberikan kompensasi paling besar pada karya terbaik.
Ketika keduanya selesai dalam sepekan, Raja malah kebingungan untuk memutuskan mana lukisan paling baik karena keduanya punya gambar dengan keindahan masing masing. Sampai suatu ketika hujan turun dan melunturkan kedua gambar tersebut
Raja mendapat ide baru. Diberinya pada kedua seniman waktu selama 6 bulan untuk menciptakan lukisan anti luntur yang akan raja pajang di dinding kastil. Bagi siapapun yang dapat menyelesaikan karya terbaik anti luntur maka dia akan jadi pemenangnya.
Seniman A percaya diri bahwa dengan kemampuan seninya dia bisa membuat lukisan paling bagus pada lapisan dinding batu, sekalipun dirinya membutuhkan waktu yang cukup lama karena proses pengeringan cat dan perombakan dinding apabila terjadi kesalahan, waktu 6 bulan dirasa cukup.
Sedangkan seniman B memutuskan kembali ke kampung halamannya dan bertemu dengan guru yang dibencinya karena sedari awal sudah melarang dirinya untuk mengikuti sayembara dari Raja karena bagi sang guru, Ilmu si B belum cukup.
Berselang pengerjaan 5 setengah bulan, Seniman A bernapas lega karena ternyata hasil karyanya bisa lebih cepat selesai dari dugaan awal. Masih dengan pakaian penuh coretan cat dia bersegera melapor ke pihak istana atas hasil karyanya. Namun pahit, ketika seniman A menyampaikan karyanya pihak istana malah membalas dengan pernyataan bahwa sayembara sudah selesai semenjak 3 bulan yang lalu, dan dimenangkan oleh si B.
Kesal karena karyanya tak dianggap si A meminta hak untuk melihat hasil karya si B pada raja. Si A masih merasa bahwa mustahil dengan situasi musim hujan seperti ini lukisan pada dinding kastil dapat mengering begitu cepat. Namun ketika melihat hasil karya B si A tertegun. Gambar si B sedari awal tidak pernah berada di dinding kastil. Melainkan terlukis di atas kanvas berupa rajutan kulit hewan yang sangat besar yang membuat cat menyerap langsung ke lapisan Kanvas dan membuat tinta menjadi tahan luntur.
Berbeda dengan A, pada bulan pertama B menghabiskan waktu untuk belajar berburu, mencari tahu tentang jenis hewan dengan kulit yang sesuai, menyamak kulit hewan, dan merajutnya. Di bulan kedua B berusaha mencari cat yang sesuai dan bisa mengering di atas kulit hewan dengan baik. Di bulan ketiga B mulai mengerjakan lukisannya dan berhasil menyelesaikan dalam waktu sepekan, bahkan tidak hanya sampai disitu B juga membuat 4 lukisan berbeda-beda untuk dipasang tiap terjadi pergantian musim.
Dasarnya, Seorang seniman tidak perlu mempelajari bagaimana cara berburu, menjahit, bahkan menguliti mangsanya. Namun berbekal hal hal tersebut sang seniman dapat bersaing dan punya kesempatan berkembang lebih jauh.
Jadi, untuk kalian yang masih merasa bahwa sekolah hanya mematikan kreativitas, yang kalian butuhkan bukan reformasi maupun perubahan sistem tapi sudut pandang baru.

Posting Komentar