Memiliki sifat ambisius dan kompetitif disebuah situasi tertentu seperti lingkungan tempat kerja, kelas di perkuliahan, ataupun sekolah merupakan hal yang sering kita temui. Entah kita yang menjadi orang ambis, atau ada orang lain yang menganggap kita saingannya.
Tapi pernahkah kamu merasakan orang-orang di sekitarmu tersebut mulai tidak sehat dalam bersaing? Misalkan karena kamu unggul di bidang akademis, satu atau beberapa orang mulai menjauhimu dan terlihat sinis. Atau saat hasil kerjamu dipuji atasan, rekan kerja mulai mencibir?
Nah inilah yang disebut crab mentality atau mentalitas kepiting. Atau biasa dikenal juga sebagai 'crabs in the bucket syndrome'. Kok harus dinamakan gitu? apakah seperti tuan krab yang julid?
Bukan. Alasan penamaan ini karena analogi yang digunakan ibarat sekelompok kepiting yang dikumpulkan dalam ember, biasanya akan saling menarik satu sama lain ketika salah satunya ada yang hendak memanjat ke atas.
Nah, kejadian ini dirasa memiliki kecocokan sebagai perumpamaan untuk orang-orang yang tidak senang melihat orang di sekitarnya mengalami kesuksesan.
Cenderung berusaha menarik orang yang lebih unggul itu untuk sama gagalnya atau berada di posisi yang sama dengannya. nyebelin ya?
Kenapa sih crab mentality ini bisa ada?
Pertama, karena manusia sebagai makhluk sosial sudah sejak zaman nenek moyang hidup berkelompok, dan dalam kelompok ini cenderung ada dorongan untuk menyamakan identitas. Maka saat ada perbedaan, wajar jika persaingan muncul.
Selain itu, manusia memang cenderung mengidentifikasi orang lain dan melakukan perbandingan. Nah ketika ada insecure, cemburu, rendah diri, malu, rasa tidak puas yang dimaknai dengan salah, maka dorongan untuk menjatuhkan orang yang dianggap saingan ini bisa muncul.
Apakah artinya kita tidak boleh cemburu atau merasa tersaingi? Sebetulnya sifat kompetitif itu manusiawi, namun outputnya lah yang seharusnya bisa dibawa ke arah yang lebih positif. alih-alih menjatuhkan, kenapa tidak berusaha untuk mengembangkan dan memperbaiki diri?
Selain itu, tentu perasaan tersaingi apalagi jika ingin terus menjatuhkan ini masih ada, nantinya sulit menemukan kepuasan. Kepuasan hanya muncul sesaat jika berhasil menjatuhkan mental 'saingan'. sementara akan ada terus orang yang lebih dan lebih daripada kita.
Ingat, diatas langit masih ada langit kan?
Jika kita terus menganggap orang lain yang punya suatu keunggulan sebagai saingan dalam berbagai aspek, maka sulit untuk bersyukur akan kemampuan diri dan sulit juga untuk menghargai orang lain.
Seperti apa contoh dari perilakunya?
Adanya kata-kata semacam "Biasa aja kali, ipk bagus juga karena deket dosen" "Padahal bukan karena dia, karena timnya aja bagus". Atau ada kritikan yang menyerang dan menyerang pribadi, meremehkan dan adanya pengucilan bahkan manipulasi.
Seperti apa dampaknya?
Tentunya jika orang yang diserang memiliki mental yang kuat, mungkin tidak akan terlalu besar dampakya. Namun bagi yang tidak cukup resilien, rapuh, dan mudah insecure mungkin mentalya akan tertekan.
Dampak yang lebih besarnya adalah kehilangan rasa berharga, penurunan performa, resign, pindah sekolah, depresi, bahkan self-harm dan mengalami mental breakdown jika tindakan perundungannya berlebihan. Bagaimana cara menghadapi orang dengan crab mentality ini?
Pertama, tentunya perkuat konsep diri dan self love. Supaya bisa lebih mengenal diri dan tidak mudah goyah jika mulai diserang oleh siapapun, ketahui juga apa yang jadi kekuatan diri, dan terakhir fokus pada hal positif dan produktif.

Posting Komentar