Prolog
Pagi itu lagi-lagi aku bangun di waktu yang sama, sebelum subuh seperti biasanya. Aku gelagapan mencari saklar di tengah gelap kamar sembari mengucek mata menatap ke arah jendela. Oh iya sedikit info saja, kamarku sama sekali tidak memakai gorden atau jenis penutup jendela lainnya. Saat proses pembuatan rumah, aku sengaja request ke amang tukang untuk memakai jendela sebesar-besarnya dan menolak untuk dipakaikan penutup apapun, “sayang mang” kataku. Sayang disini bukan untuk si amang tukang tentunya, yang aku sayangkan adalah view sunrise langsung dari arah gunung Gede Pangrango dari jendela kamarku.
Boleh sedikit jumawa? hehe, bolehlah ya. Aku hidup seorang diri di rumah hasil jerih payah bekerja selama hampir kurang lebih dua tahun. Ya walaupun bukan 100% dibangun dengan uang sendiri, setengahnya tentu berkat bantuan orang tua. Berkat mereka, anaknya yang akhir tahun ini genap berumur 23 tahun berhasil memiliki rumah yang bahkan tidak pernah ia berani impikan seumur hidupnya.
Aku hampir lupa memperkenalkan diri, namaku Hilman. Aku sering dipanggil ‘hil’ oleh orang-orang terdekatku, mungkin agar lebih praktis bila dipanggil, mereka akhirnya memberikan nama itu. Aku pun cukup senang diberi nama panggilan itu, dalam penulisan bahasa inggris, Hil biasa ditulis heal yang berarti ‘sembuh’ atau ‘menyembuhkan’, arti yang sangat mulia bukan?
Mungkin bila diingat, aku sudah menyandang nama panggilan itu kurang lebih hampir 10 tahun. Aku sangat ingat, orang yang memberikan nama panggilan unik itu adalah Adzka, sahabat dekatku sewaktu SMP. Gara-gara dia yang dimanapun selalu memanggilku dengan nama itu, membuat teman-teman yang lain pun ikut memanggilku hill, bahkan hingga Guru-guru dan penjaga sekolah ikut memanggilku dengan nama itu, sungguh hebat memang pengaruh si Adzka ini. Dan sejak aku dipanggil hill, entah karena sugesti atau memang nama itu adalah do’a, perlahan tapi pasti kehidupanku yang tadinya sesak dan gelap(dark) perlahan mulai berangsur-angsur membaik dan menyejuk(healdarked), dan pada akhirnya berhasil sembuh seutuhnya(heal). Persis seperti nama panggilanku.
Oh iya, pasti sekarang kalian mulai bertanya-tanya, “kerja dua tahun kok bisa punya rumah?”, “harus nabung berapa perbulan buat bisa punya rumah di umur 22 tahun?”, “kuliah gak? kalo gak kuliah, emang ada kerjaan buat tamatan SMA yang gajinya cukup buat ngebangun rumah?”. Bila diingat lagi, sebenarnya aku pun kurang percaya akan apa yang sudah aku lewati hingga bisa seperti sekarang ini, yang aku ingat hanyalah diriku yang terus berjalan lurus tanpa melihat ke arah lain, tanpa mengingat kenangan kelam di masa kecil, menghiraukan sakit di ujung telapak kaki karena terus berjalan tanpa henti walau tanpa alas kaki.
Kembali ke pagiku, sehabis subuhan dan beberapa ritual tidak penting lainnya, aku bergegas menuju dapur untuk memanaskan air bahan baku kopi pahit favoritku. Padahal ya, dulu aku sangat benci terhadap kopi hitam, apalagi pahit. Tapi sekarang, setiap pagi akan terasa kosong bila belum meneguk kopi pahit hasil racikan sendiri, mungkin getirnya sudah tertutup oleh manisnya hari yang aku jalani sekarang. Ya, akhirnya aku berhasil ‘sembuh’. Seperti kata Tere Liye dalam bukunya yang berjudul Pulang.
Akan selalu ada
hari-hari
menyakitkan, dan kita tidak tahu
kapan hari itu menghantam kita.
Tapi akan selalu ada hari-hari
berikutnya, memulai bab yang baru
bersama matahari
terbit.
Sejatinya dalam hidup ini,
kita tidak pernah berusaha
mengalahkan orang lain, dan itu
sama sekali tidak perlu, kita cukup
mengalahkan
diri sendiri. Egoisme.
Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut.
Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau
bisa menang dalam pertempuran itu,
maka pertempuran lainnya
akan mudah saja.
tapi benarlah kata orang,
meski semua hal itu adalah
kenangan menyakitkan,
kita baru merasa kehilangan, setelah
sesuatu itu telah
benar-benar pergi, tidak akan
mungkin kembali lagi.
. . . . Pulang, Tere Liye.
Inilah sebuah cerita biasa mengenai pemuda biasa-biasa yang harus menjalani hidup dengan sangat tidak biasa. Kisah luar biasa bagaimana cara seseorang terjatuh, tertatih, terjatuh lagi, bangun, hingga akhirnya berhasil ‘sembuh’.
Heal.
Bersambung…

Posting Komentar