Hari demi hari berjalan, makin hari kepribadianku semakin berubah. Aku mulai kehilangan satu-persatu alasanku tersenyum.
Sebenarnya, aku merupakan anak yang terbilang cukup periang. Aku tipe anak energik yang bisa terus bergerak seharian penuh, entah itu bongkar pasang robot mainan favoritku, bermain petak umpet dengan ibu, atau sekedar berlari kesana-kemari selayaknya anak kecil pada umumnya. Tapi, sejak ayah dan ibu sibuk bekerja, aku tak lagi mengingat kapan terakhir kali aku memainkan salah satu pun permainan yang biasa aku mainkan.
Sepulang dari sekolah, aku hanya bisa tertidur sembari menahan lapar menunggu nenek pulang dari ladang. Memang, sejak ibu memutuskan untuk bekerja, uang jajanku ditambah. Walau tidak terlalu signifikan, tetapi sekarang uang jajanku cukup untuk membeli beberapa jenis jajanan, tak hanya lagi satu jenis seperti waktu dulu. Walau begitu, aku harus membayar mahal demi memiliki uang jajan lebih itu, aku harus kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuaku.
Untungnya, aku masih memiliki seorang Paman yang sangat baik hati. Dia adalah kakak ibu yang rumahnya bersebelahan langsung dengan rumah kami, aku sering memanggilnya Uwa. Uwa bekerja sebagai penghulu dan penceramah sekaligus guru di kampungku. Ia disenangi semua orang berkat kepribadiannya yang ramah dan murah senyum. Kumis khasnya yang tebal layaknya rano karno, dibalut dengan setelan jas koko serta tidak lupa, rambutnya yang selalu klimis berkat urang aring hijau bau rumput laut andalannya.
Uwa memiliki seorang anak laki-laki yang masih bayi, mungkin karena ia suka anak kecil dan merasa aku butuh sosok untuk sekedar “dipeluk” ditengah kesendirianku, membuat ia sangat baik padaku. Ia menganggapku sudah seperti anak kandungnya sendiri. Bila si bayi dibelikan mainan, tak lupa ia pun membelikan mainan yang sama untukku. Terkadang tak jarang istri uwa atau yang biasa aku panggil Bibi memarahi Uwa karena dinilai terlalu menyamaratakan perlakuannya terhadapku dengan anaknya.
Sejak Ibu dan Ayah yang mulai sibuk bekerja, tinggalah Uwa satu-satunya sosok untukku ‘pulang’, ia jugalah yang merupakan alasan terakhir mengapa aku masih bisa mempertahankan senyumanku yang mulai memudar ini.
Saat matahari mulai beranjak pergi meninggalkan sang sore, langit mulai menghitam beriringan dengan datangnya sisi gelap yang merangsek masuk kedalam hatiku. “ah, lagi-lagi aku harus kembali bertemu waktu ini” ujarku dalam hati.
Aku benci waktu Magrib, aku benci gelap. Menurutku Magrib adalah waktu yang paling menakutkan, waktu yang paling aku benci bahkan bila dibandingkan dengan malam yang selalu memaksaku untuk tertidur sebelum ibu pulang atau pagi yang merampas peluk kedua orang tuaku dikala fajar, waktu Magrib jauh lebih menakutkan.
Saat memasuki waktu Magrib, tibalah waktuku untuk makan malam dengan lauk seadanya dan dilanjut dengan sesi mengaji yang dipimpin oleh Nenek. Inilah yang selalu jadi momok menakutkan bagiku, dengan sifat Nenek yang cenderung temperamental khas sifat orang-orang dulu, ditambah cara mengajar yang keras dan kadang diselingi dengan kekerasan fisik seperti jeweran atau sekedar memukul paha selalu membuat mentalku ciut. Walau sebenarnya pukulan nenek sama sekali tak terasa sakit tapi cukup untuk menggoyahkan mental seorang anak kecil. Belajar mengaji bersama Nenek di ujung kamar, ditemani lampu 5 watt hampir rusak yang bercahaya kuning buram di samping kasur dan dihiasi suara keras nenek saat menjelaskan cukup memberikan rasa trauma yang dalam dan cukup membekas di setiap waktu Maghribku.
Cara membacaku yang masih terbata-bata dan masih sering salah terkadang membuat Nenek kesal, ia merasa bahwa aku tak kunjung lancar dalam membaca lembar demi lembar al-qur’an. Bagaimana tak terbata-bata, tingkatan al-qur’an yang aku baca saja adalah tingkatan untuk seumuran anak SMP, sedangkan aku masih duduk dikelas 2 SD. Aku selalu dituntun dua-tiga langkah lebih jauh dari teman seumuranku. Terkadang, begitu selesai mengaji aku menangis karena takut dan gemetar dengan bentakan Nenek hingga tangisku terdengar ke rumah Uwa. Tak lama kemudian Uwa pun datang dan segera membawaku ke rumahnya untuk sekedar menghentikan tangisku. Tak jarang juga aku bersembunyi karena tak mau pulang saat Nenek datang memintaku untuk kembali, aku sering merungkut ketakutan hingga ketiduran di sofa Uwa saking tidak maunya kembali ke rumah.
Sebenarnya aku tahu niat Nenek itu baik, ia sama sekali tak memiliki maksud buruk saat membentakku, ia hanya menyamaratakan perlakuannya terhadap semua orang hingga lupa kalau yang sedang dia ajari hanyalah bocah 8 tahun yang bahkan belum mampu berjalan dengan benar. Memang, Nenek dulunya adalah guru ngaji di kampungku. Sedari dulu pun Nenek sudah terkenal galak dan tak pandang bulu dalam memberi nasehat saat mengajar. Berkat wataknya yang keras itu membuat Nenek sangat disegani oleh semua orang saat mengajar, semua tunduk padanya. Tapi begitu nenek semakin menua, ia sudah tak sanggup untuk mengajari banyak orang, itu alasan kenapa ia berhenti menjadi guru ngaji dan hanya fokus diladang.
Setelah selesai mengaji bersama nenek, aku melanjutkan kegiatanku seperti belajar dan mengerjakan beberapa tugas sekolah, selepas solat Isya jam pun sudah menunjukan pukul 8 malam, tibalah waktuku untuk tidur, tepatnya dipaksa malam untuk tertidur. Aku tak pernah bisa tidur dengan rasa tenang, hatiku selalu gundah, aku takut karena begitu aku bangun, aku mendapati diriku kembali sendiri.

Posting Komentar