Pada zaman Nabi, ada kitab Yahudi yang berjudul "Shi Arkoma" yang isinya adalah menaksir dan memperkirakan wujud Tuhan. Buku ini menggambarkan sosok Tuhan seperti raksasa dalam wujud manusia.
Mereka dilema dan merasa bahwa kitab-kitab seperti ini mengungkapkan keyakinan dengan naif dan tidak selaras dengan tuntutan nalar pada masa mereka. Dialog mereka dengan orang-orang Islam secara tidak langsung memunculkan dan mengikuti metode Philo of Alexandria.
Philo of Alexandria, seorang teolog Yahudi mencoba menyelamatkan ajaran karena terjadi helenisasi besar-besaran. Septuaginta, Taurat yang diterjemahkan atas perintah Firaun Ptolemy Philadelphus terdapat masalah, terutama adanya penyerupaan fisik Tuhan (Tajsim).
Sebelum Philo, sebenarnya ada akademisi Yahudi yang bernama Aristobulus. Dia mentakwil ayat Taurat agar bisa berkompromi dan sinkron dengan Filsafat Yunani. Abad 1 SM, muncul kitab Sofia Solomontos yang meminjam ide-ide Stoicism menjadi dasar ayat.
Kitab Sofia Solomontos ini biasa dikenal sebagai Kebijaksanaan Salomo, yaitu bagian dari kitab Deuterokanonika yang diyakini oleh Gereja Katolik, Ortodoks, dan Abessinia sebagai kitab yang berasal dari ilham Roh Kudus. Philo of Alexandria sebagai teolog juga dipengaruhi oleh ide-ide Stoic, Platonis, dan Neo Pythagoreanism. Dia berpendapat bahwa Taurat memiliki dua aspek, yaitu lahir (ditujukan pada orang awam) dan batin (hanya untuk filsuf dan akdemisi saja).
Philo mentakwil ayat-ayat Taurat dengan berlebihan, sehingga menghilangkan korelasi ayat. Dia menyatakan bahwa sifat manusia dalam Taurat adalah sifat kekuatan perantara. Interpretasi Philo ini memberi signifikansi baru dan pemahaman baru bagi agama Yahudi.
Selain itu, dia ingin mengkompromikan antara agama Yahudi dan Filsafat Yunani. Sayangnya aliran teologi Philo ini tidak mendapat perhatian banyak, para Rabbi lebih sibuk merumuskan dan mendiskusikan Talmud. Sehingga di kemudian hari, Yahudi Rabbinik kering akan bahasan teologi.
Ide-ide Philo of Alexandria justru terefleksi pada filsafat Neo Platonisme. Kekristenan juga mengambil pendapat Panteistik Philo, yaitu keyakinan Tham bersemayam pada manusia, juga paham tentang Logos.
Kembali ke topik, ide-ide Mu'tazilah menjadi luas jangkauannya sehingga muncul tokoh yang bernama Anan ben David, dan mengusung sebuah gerakan intelektual baru yang bernama Karate. Yahudi Karate mendobrak doktrin Rabbinik, menyerukan penggunaan nalar dan prinsip bebas.
Yahudi Karate adalah kelompok pertama yang memasukkan doktrin teologi teologi terstruktur dan sistematis. Yahudi Karaite juga salah satu jejak pengaruh pemikiran Mu'tazilah. Selain itu, dialog keagamaan di era ini juga menciptakan gelombang mualaf yang besar.
Mau tidak mau, para Rabbi harus membentengi akidah mereka dengan dialektika logika. Saadia Gaon (882-942 M) adalah Rabbi besar pertama yang menggunakan akal dan logika dalam membangun Filsafat dan Teologi Yahudi.
Pengaruh Islam mendorong Saadia Gaon menafsirkan Taurat dengan simbolis dan menghindari kata personifikatif. Dia berafiliasi kepada pemikiran Mu'tazilah seperti penjelasan dalam bukunya yang berjudul "Al Amanat wal l'tigadat".
Saadia Gaon mencoba mendamaikan akal dan agama, dengan meminjam ide-ide Mu'tazilah. Setelah itu muncul David ben Merwan, seorang Filsuf Yahudi yang punya tujuan sama, tetapi lebih dipengaruhi Aristotelian dan Platonis.
Merebaknya Ilmu Kalam dan Filsafat di kalangan Muslim membuat banyak orang-orang Yahudi yang runtuh imannya dan masuk Islam. Akhirnya para Rabbi Yahudi mau tidak mau harus menyesuaikan diri. Pemikiran Kalam, Aristotelian, dan Neo-Platonik menjadi berkah bag orang-orang Yahudi.
Mereka berhasil menelurkan penelitian yang konsisten dan terstruktur. Konsep baru in menekankan penyucian Than dari bentuk Tasybih (Antromorpis) dan Tajsim (Antropomorpis) yang terkandung dalam Taurat dan Talmud.
Mereka menegaskan sifat, bahkan berkeyakinan bahwa Tuhan tidak bisa digambarkan, dijelaskan dengan sifat, dan atribut afirmatif melainkan dengan negasi. Rabbi Yahudu pertama yang mempunyai konsep ini adalah Bahya ibn Paquda dan Maimonides. Maimonides secara langsung bertumpu kepada ulama Falsafi yaitu Al Farabi dan Ibnu Sina. Salah satu pemikiran Maimonides adalah penolakannya akan paham Aristotelian tentang keazalian alam. Dia mau tidak mau harus mempertentangkan dalil agama dan pemikiran Filsafat.
Setelah ini, merebak pembahasan tentang teologi di kalangan Yahudi. Pertanyaan-pertanyaan seperti:
- Apa hikmah dibalik perintah Tuhan?
- Nabi itu sesuatu yang diupayakan atau penunjukan oleh Tuhan?
- Apa beda Tuhan dengan Nabi?
Source:
- Margrete Smith, Introduction to the History of Mysticism.
- Al Mausu'ah Al Yahudiyyah.
- Ali Nasysyar, Al Fikr al Yahudiyyah wa tha'aturuhu bi Falsafa al Islamiyyah.
- G. F. Moore, Judaism.
- Nuesner, Understanding Rabbinic Judaism.


Posting Komentar