Kenapa mengulang kesalahan yang sama?
Kenapa jatuh cinta ke orang yang itu-itu lagi?
[Disclaimer]
Pembahasan ini cukup sensitif, dan bila dirasa memicu kesedihan atau trauma diperkenankan untuk tidak menyimak. Tulisan ini bukan pedoman diagnosis kesehatan mental, bukan juga dimaksudkan menyalahkan pihak manapun. Dimohon disimak dengan bijak.
Manusia belajar dari kesalahan. Banyak yang sepakat dengan pernyataan ini. Tentunya, teman-teman juga tak asing atau malah punya prinsip "jangan jatuh ke lubang yang sama". Tapi, tak semua orang bisa langsung belajar dari pengalaman buruknya dan juga kesalahannya. Ada sebagian orang yang justru malah mengulangi kesalahan yang itu-itu lagi. Apakah kalian punya temen yang seperti itu? Greget bukan melihat teman kalian balikan kembali dengan mantannya yang toxic itu? Atau, malah kalian nih yang punya kebiasaan itu?
Kira-kira kenapa ya?
Jadi ada fenomena yang dinamakan repetition compulsion atau trauma reenactment.
Apa sih fenomena ini?
Ini adalah sebuah fenomena dimana ketika seseorang mengulangi tindakannya (yang kurang baik), dan pengalaman traumatis yang pernah terjadi dalam hidupnya.
Kok diulang-ulang? Jadi, pengulangan ini dilakukan secara tidak sadar yang melibatkan alam bawah sadar.
Bagaimana pengulangan tersebut bisa terjadi?
Jadi, gambarannya nih ya.
Saat seseorang pernah mengalami toxic relationship, dia sadar bahwa pacarnya memberikan racun dalam pola relasinya. Tapi alam bawah sadarnya sudah terbiasa dengan sosok pacarnya yang seperti itu. yang abusive, yang tukang selingkuh. Atau, bila konteksnya misal berkaitan dengan orang tua dengan kebiasaan beliau yang tak selalu baik. Karena terbiasa memiliki ayah yang abusive, akhirnya ada kecenderungan menyukai pasangan yang kasar, yang berandalan. Sekali lagi, bukan karena tidak tahu itu salah, tapi karena terbiasa.
Apalagi, jika trauma yang tercipta tidak diselesaikan. Tidak disalurkan dengan baik. Orang yang mengalami trauma ini tidak menyadari akar permasalahannya dimana, dan malah terus mengulanginya. Bisa jadi malah kehilangan kemampuan mengenal dirinya sendiri.
Hal ini diperparah oleh beberapa hal, diantaranya:
Manipulasi dalam hubungan toxic membuat dia tak sadar bahwa dia layak menjalani hubungan dengan pola yang lebih sehat.
Dia menganggap semua masalah itu salahnya sendiri, bukan karena kelakuan orang yang bermasalah.
Adanya rasa lelah untuk memulai hubungan baru, apalagi dengan sikap yang amat berbeda dengan pasangan atau orang yang dikenal sebelumnya. Ada kekhawatiran untuk memulai relasi dengan adanya keasingan.
Pemaknaan yang salah untuk mewajarkan dan menikmati kesakitan yang dialami.
Jika traumanya parah, dan permasalahannya kompleks, maka orang yang mengalaminya takkan pernah merasa siap untuk memulai perubahan, sekalipun sebetulnya demi kebaikannya sendiri.
Apa yang terjadi jika trauma ini dibiarkan?
Selain tentunya mengulangi kesakitan yang sama
(misal saat kecil jadi korban kekerasan orang tua, saat dewasa jadi korban kekerasan pasangan), potensi lainnya adalah menjadi pelaku kekerasan bahkan kriminalitas (karena tak merasa salah). Terus ketergantungan pada orang lain, adanya kecenderungan menyalahkan diri dan menyakiti diri juga jadi potensi, sebagai dampak dari kejadian tersebut.
Jadi inilah, kenapa ada orang di sekitarmu yang sepertinya bebal sekali. sudah sangat tahu pasangannya berperilaku buruk tapi tetap tak bisa lepas. Atau orang yang seleranya aneh dalam memilih pasangan, bisa jadi karena traumanya ketika diasuh orang tuanya.
Bagaimana cara mengatasinya?
Yang penting tentunya kesadaran dari orangnya bahwa ia mungkin mengalami sesuatu yang buruk dan melakukan hal yang tak benar dan sudah jadi pola.
Kemudian meminta bantuan profesional. Hal berkaitan trauma seperti ini bukan suatu hal yang langsung bisa diselesaikan secara instan. Kadang butuh pendalaman, eksplorasi dan tentunya kerja sama antara klien dan profesional adalah kunci.
Mudah-mudahan bila kalian merasa terus jatuh cinta pada orang yang salah, atau terjebak dalam pola hubungan toxic, kalian bisa lebih tercerahkan ya.
Atau bila kalian memiliki teman dengan kebiasaan seperti yang sudah dijelaskan tadi, kalian janganlah langsung mengecam dan membencinya, tapi kalianlah yang harus menjadi penolong mereka, menyadarkan bahwa mereka sedang terjebak.

Posting Komentar