Silent Treatment

source: healdarked(instagram)


Silent Treatment: Ketika diam bukan lagi emas, namun justru menyakiti.

Pernah mendengar pepatah "diam itu emas?" Barangkali pepatah tersebut tidak berlaku untuk silent treatment ini.

Karena justru, tindakan semacam ini malah bisa menjadi suatu bentuk menyakiti. Lho kok bisa?


Silent treatment secara bahasa mengacu pada sebuah tindakan diam, atau mendiamkan seseorang. Entah untuk pasangan, untuk teman, untuk saudara atau orang terdekat dan sudah dikenali. Tindakan ini juga bisa diartikan sebagai pengabaian, atau menghindari interaksi.


Istilah lainnya adalah Stonewalling atau suatu bentuk penolakan terhadap interaksi dan komunikasi.

Apa saja cirinya?

1. Pelaku mengabaikan kata-kata lawan bicara

2. Mengalihkan topik dari permasalahan inti.

3. Menggunakan bahasa tubuh yang mengganggu seperti melirik tajam, menepis.

4. Menghindari kontak mata.

5. Menyibukan diri dengan benda / kegiatan lain.

6. Menunda untuk membahas permasalahan.

7. Mengulur waktu.

8. Menghindari pertemuan.

9. Betul-betul diam dan tidak merespon.

10. Meninggalkan lawan bicara.


Hal ini akhirnya menyebabkan beberapa hal pada orang yang didiamkan

1. Merasa kebingungan.

2. Hanya mampu menebak-nebak, dan ini diperparah oleh pikiran yang mengarah pada hal negatif.

3. Merasa eksistensinya tidak diakui.

4. Tidak ada validasi, dan rendah diri.

5. Merasa serba salah dan takut salah mengambil keputusan.

6. Menyalahkan diri.

7. Tidak bisa memvalidasi emosi, sehingga mengalami kesulitan membedakan mana fakta dan mana perasaannya.


Pada dasarnya, dalam sebuah hubungan baik itu pertemanan, hubungan asmara, relasi dan sebagainya, komunikasi itu diperlukan.

Karena manusia tak mungkin mengetahui secara pasti apa yang dirasakan, dan apa yang diinginkan lawan bicaranya.


Jika tak ada komunikasi, dan malah ada pengabaian, maka manusia bisa merasa eksistensinya mengalami krisis, dan tak punya patokan untuk mengetahui letak kesalahannya. la hanya bisa mengandalkan. perasaannya yang tentunya tinggi risiko bias.


Maka silent treatment atau stonewalling tidak lagi menjadikan diam sebagai emas, walau sekalipun mungkin pelaku hendak berdiam karena tak mau membuat masalah atau justru karena ingin dimengerti tapa harus menjelaskan. Jelas, itu hal yang keliru. Ini malah jadi bentuk abusive.


Bagaimana membedakan diam biasa dan silent treatment?

Diam biasa bisa ditandai dengan jangka waktu yang tak terlalu lama, atau tidak ada pengabaian langsung, melainkan betul-betul tidak bertemu.

Atau yang diam biasa mengabari dan memberi kejelasan alasan diamnya, misal sibuk.


Silent treatment bisa menjadi bentuk manipulasi atau tindakan abusive. Karena dengan adanya tindakan ini, korban merasa bersalah dan akan butuh keielasan dari pelaku.

Maka pelaku bisa lebih memegang kendali dan berkuasa menarik ulur perasaan korban. Lalu bagaimana cara mengatasinya?

1. Jujur, utarakanlah perasaanmu.

Jelaskanlah sejelas-jelasnya bahwa kamu merasa tidak nyaman dengan apa yang dia lakukan.

Karena bisa jadi pelaku memang tidak sengaja, tak paham bahwa itu menjadi tindakan yang menyakiti.


2. Skill komunikasi yang perlu dikuasai.

Ini dibutuhkan oleh kedua belah pihak. Baik korban maupun pelaku.


3. Coba validasi pihak lain.

Entah temannya yang lain, keluarganya, pacarnya (misal kamu adalah temannya). Second opinion bisa memvalidasi emosimu, supaya kamu tidak down.


4. Konseling ke profesional untuk kedua belah pihak.

Ini bisa dilakukan, apalagi jika silent treatment terjadi dalam pernikahan.


5. Tegaskan, dan tinggalkan.

Jika semua upaya sudah dilakukan, tegaslah. jangan biarkan emosimu dikuasai dan dimainkan olehnya.


Sedikit pembahasan soal silent treatment ini. Semoga bisa bermanfaat untukmu. Semoga kita bisa menghindari tindakan ini dan mengedepankan komunikasi, serta bisa melawan tindakan ini jika diarahkan kepada kita dan dirasa mengganggu.

Post a Comment