The Promised Neverland menyajikan fantasi petualangan anak-anak bahan makanan yang epic dan menegangkan dari awal sampai akhir.
Emma, Norman, dan Ray adalah tiga anak yang tidak sengaja menemukan fakta bahwa panti asuhan tempat mereka tinggal selama ini ternyata adalah peternakan manusia.
Mereka dan anak-anak panti lainnya dibesarkan bukan untuk diadopsi ketika sudah besar, melainkan disajikan sebagai bahan makanan premium untuk komunitas iblis pemangsa manusia.
Manga dengan total 20 volume ini menceritakan bagaimana ketiga sahabat ini bertahan hidup, melakukan perlawanan, dan mengubah dunia.
Setelah selesai membaca serial ini, saya kira TPN layak untuk disandingkan dengan fantasi petualangan anak lainnya seperti Harry Potter, Narnia, atau Peter Pan.
Kalau melihat perkembangan cerita, rasanya luar biasa membayangkan anak-anak kecil yang helpless di awal bisa menjadi suatu kelompok yang terampil, terorganisir, dan memberikan perlawanan. Padahal ya ini bukan battle manga.
Nggak ada kekuatan super human atau magic di dalam karakter protagonisnya. Mereka hanya anak-anak yang berbakat dan mampu bekerja sama dengan sangat baik untuk tetap hidup. Tapi ceritanya benar-benar memberi kesan "even kids can change the world too".
Walau sama-sama pintarnya, karakter anak-anak panti GF House punya karakteristik yang mudah dibedakan. Kalau Norman selalu realis dan strategik dalam beberapa langkah ke depan, Ray punya perhitungan matang walau terkadang manipulatif. Bagaimana dengan Emma?
Nah karakter utama serial ini memang Shonen Jump banget. Selain sifatnya yang optimistik dan empatetik, pembaca perlahan-lahan diajak melihat perkembangan kemampuan leadership Emma yang nggak cuma leave no one behind, tapi juga sering kali diplomatis terhadap musuh-musuhnya.
Dan ketika mereka bertiga nggak bisa mengatasi masalah sendiri, anak-anak karakter pendukung lain benar-benar bisa mengisi peran yang sangat baik dalam mengeksekusi rencana dengan keahlian masing-masing.
Bagian menarik lainnya adalah plot yang kerap penuh kejutan.
Entah itu rencana pelarian, penyusupan, atau kudeta, kelompok-kelompok yang ada di TPN ini punya pemikiran dan metode menyelesaikan masalah yang berbeda-beda. Alhasil, mereka nggak selalu ada di satu kubu.
Belum lagi plot ini didukung dengan world-building yang mengambil isu-isu di kehidupan nyata, misalnya hierarki kelas sosial, konflik kepentingan, sampai rekonsiliasi mencapai perdamaian.
Semua arc di TPN diarsiteki dengan baik oleh Kaiu Shirai-sensei sehingga porsinya pas dan bisa connecting the dots di akhir cerita. Art-nya Posuka Demizu juga luar biasa indah.
Ketika manga ini saya selesaikan, nggak ragu untuk mendaulat TPN sebagai top 5 serial Shonen Jump terbaik sepanjang masa.

Posting Komentar