Kemustahilan Regresi Tak Hingga

source: healdarked(instagram)


Ada Penguin Bertanya Pada Bapaknya: Bukti Kemustahilan Regresi Tak Hingga (Infinite Regress)

Sebelum kita mulai, ada baiknya kita tahu dulu apa itu regresi tak hingga atau sering disebut infinite regress. 

Pengertian Tak Hingga menurut Wikipedia ialah sesuatu yang tiada berbatas maupun berpenghujung, atau sesuatu yang lebih besar dari sebarang batas yang ditetapkan. Sedangkan Regresi bila dijabarkan memiliki pengertian yaitu sebuah metode yang berfungsi untuk memprediksi pengaruh dari dua atau lebih variabel fungsional tertentu. Infinite regress ini ialah argumen yang biasa digunakan oleh para Atheis untuk menyangkal keberadaan Tuhan, mereka akan berlindung pada teori Regresi Tak Hingga dengan terus beranggapan setiap proporsi dalam susunan bergantung pada susunan sebelumnya, ini seperti menambahkan jumlah Tak Hingga 0 dan berharap mendapatkan hasil 1. Sekarang, mari kita coba buktikan kemustahilan teori Regresi Tak Hingga, cukup hanya dengan analogi sederhana.


Ada penguin bertanya pada bapaknya, 

"buat apa berlapar-lapar puasa".

Ada anak penguin bertanya pada bapaknya, 

“solat 5 waktu sehari untuk apa”.

Ada penguin bertanya pada bapaknya, 

"tadarus tarawih apalah gunanya".

Alih-alih menjawab, bapak penguin bilang,

"Aku tidak tahu nak, nanti aku coba tanya bapakku".


Bapak penguin kemudian bertanya kepada bapaknya. Bapak dari bapak penguin tersebut ternyata juga tidak tahu, sehingga bapak dari bapak penguin itu ingin bertanya kepada bapaknya pula. Namun, ketika bapak dari bapaknya bapak penguin tersebut ditanya, ternyata ia juga tidak tahu.


Sehingga bapak dari bapaknya bapak penguin itu juga ingin bertanya kepada bapaknya. Siklus itu terus berlangsung sampai tak hingga, tanpa ujung definitif.

Pertanyaan selanjutnya, apakah mungkin kelak suatu saat anak penguin mendapat jawaban dari pertanyaannya?


Dalam kondisi ketakberhinggaan, jelas tidak mungkin anak penguin akan mendapatkan jawabannya. Tak hingga berarti tanpa ujung, alias ia menjadi siklus yang berulang-ulang tanpa akhir (no ultimate end). Pertanyaan tadi hanya akan terus berulang hingga entah berapa kali pengulangan dan melewati berapa generasi. Siklusnya adalah: anak penguin -> bapak penguin -> kakek penguin -> dan seterusnya.


Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa regresi tak hingga adalah sebuah kemustahilan. Anggaplah kondisi sekarang anak penguin mendapatkan jawabannya. Bisakah jawaban itu muncul dari siklus regresi tak hingga? Akal kita tentu akan menjawab: tidak akan bisa.


Agar anak penguin bisa mendapat jawaban dari pertanyaannya, maka siklus tadi harus berhenti pada sosok penguin yang memiliki jawaban atas pertanyaan anak penguin di awal tadi. Analogi yang sama dapat diterapkan pada penciptaan Alam Semesta.


Apakah mungkin terciptanya alam semesta disebabkan oleh siklus tak hingga yang tak berujung dan tak pernah berakhir (infinite past event). Sebagaimana anak penguin mendapat jawaban, terciptanya alam semesta juga perlu "ujung", "akhir", atau dengan kata lain: ultimate end.


Jika ateis menolak keberadaan Tuhan dengan argumen "infinite regress", tentu ini bukan suatu argumen yang masuk akal. Karena eksistensi alam semesta yang sekarang kita alami, tentu tidak bisa dihasilkan oleh siklus tak hingga di masa lalu.

7 Komentar

  1. Saya baru tahu kalo ada teori ini, terima kasih infonya, Kak. Pembahasan yang cukup menarik terkait teori infinite regress, karena disangkutpautkan dengan Atheis. Membacaa ini, saya jadi teringat seorang kawan yang dulu pernah mengajak berdebat mengenai Tuhan. Saya yang saat itu masih awam mengenai hal itu, malah iya-iyain aja. Walau dalam hati menolak. Karena gimana ya, mengukur eksistensi Yang Tak Terbatas dengan pengetahuan yang terbatas malah bisa berujung pada kekeliruan.

    BalasHapus
  2. Kenapa saya auto nyanyi ya saat membaca kalimat, ada penguin bertanya pada bapaknya? :)
    Btw, saya juga baru tahu ada teori infinite regress.

    BalasHapus
  3. Saya juga baru tau ada teori infinite regress, tetapi kita hidup dengan memiliki kepercayaan nya masing-masing.

    BalasHapus
  4. Mempertanyakan seputar ketuhanan memang tidak hanya dapat mengandalkan akal dan logika. Perlu adanya keyakinan yang kuat agar padu dengan logika yang juga seharusnya tajam.

    BalasHapus
  5. Wah bakal baca cerita pinguin nih, ternyata disuruh mikir, makasih ya beneran gak tahu teori ini sebelumnya

    BalasHapus
  6. Tulisannya keren kak.
    Jadi inget ceritanya Ustaz Weemar, katanya ada seorang Atheis tanya "kalo kamu mati dan ternyata surga nereka nggak ada kamu gimana?", Ustaz Weemar menjawab "ya saya gk masalah toh saya gk rugi, tapi kalo surga dan neraka ada kamu gimana?"

    BalasHapus
  7. Baru tau ada teori ini. Ceritanya keren, tp hrus dibaca 2x biar paham klO bcanya lg buru2 atau pas otak lg capek

    BalasHapus

Posting Komentar