Banyak kisah tentang anak yang kehilangan masa jaya orang tuanya, mereka yang dipaksa oleh keadaan untuk hidup dengan setengah badan tersender ke tembok demi membantu kaki mereka berjalan walaupun harus tertatih-tatih disetiap langkahnya, salah satu dari segelintir anak kurang beruntung itu adalah aku.
Sebelum aku lahir, orang tuaku terbilang lumayan berkecukupan dari segi materi. Ibuku mengajar di salah satu sekolah swasta di kampungku dan ayahku bekerja di salah satu perusahaan air minum mineral yang cukup terkenal di kotaku. Begitu ibuku hamil anak pertama, yang tidak lain tidak bukan adalah aku, ibuku memilih untuk berhenti mengajar dan memilih fokus pada kehamilan pertamanya. Mungkin, dulu ibu merasa dari penghasilan ayahku pun sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, maka tanpa pikir panjang ibu memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai guru.
Singkat cerita, akhirnya aku pun lahir dan naasnya selang beberapa tahun setelah kelahiranku, perusahaan tempat ayah bekerja bangkrut yang menyebabkan PHK massal terjadi, tak terkecuali kepada ayah. Setelah itu keadaan ekonomi keluarga perlahan merosot beriringan dengan masa pertumbuhanku saat itu. Ayah mulai jarang membelikan mainan sepulangnya ia dari bekerja, padahal mungkin saat itu ayahku sebenarnya sedang menganggur, aku yang masih balita tidak sadar separah apa keadaan ekonomi kami saat itu. Menu masakan Ibu mulai monoton, susuku yang tadinya berbentuk serbuk berubah menjadi susu kental kemasan kaleng, semua terus berjalan seperti itu hingga tak terasa sudah saatnya aku masuk ke Sekolah Dasar.
Aku bersekolah di tempat mengajar ibuku dulu. Setelah memasuki bangku Sekolah Dasar, perlahan tapi pasti pola pikir, pemahaman, dan kedewasaanku mulai tumbuh. Aku sudah bisa membandingkan beberapa hal yang sering aku lihat setiap harinya. Seragamku yang agak pudar dibanding seragam teman-teman sekelasku, uang saku-ku yang hanya cukup untuk membeli satu jenis jajanan saja, dan aku yang selalu berjalan kaki baik itu berangkat maupun saat pulang dari sekolah. Dari situ aku mulai sadar, ada yang berbeda antara aku dengan teman-teman sebayaku.
Aku sudah tak pernah diantar Ibu ke sekolah semenjak memasuki tahun keduaku di sekolah. Ibu memutuskan untuk bekerja kembali demi membantu ekonomi keluarga yang tak kunjung stabil pasca PHK yang diterima ayahku beberapa tahun yang lalu.
Sebenarnya setelah aku masuk sekolah, ayahku sudah mendapatkan pekerjaan yang baru, tapi mungkin karena kebutuhan kami yang terus-menerus semakin membesar dikarenakan aku yang memasuki jenjang sekolah dan harga kebutuhan pokok yang terus naik membuat gaji ayahku hanya bisa menutupi setengahnya dari kebutuhan total. Pekerjaan Ayah yang sekarang juga tidak memiliki gaji sebesar pekerjaannya yang dulu, itu juga yang membuat ibu harus berkorban dan ikut bekerja demi memperbaiki keadaan ekonomi kami.
Ibu memutuskan bekerja di sebuah perusahaan konveksi karena sekolah tempat aku belajar sekarang yang tidak lain merupakan tempat ibu mengajar dulu, sedang tidak membutuhkan pengajar baru. Ternyata tanpa aku sadari, keputusan itu merupakan awal mimpi buruk yang akan aku jalani setiap harinya.
Karena Ibu dan Ayah memutuskan untuk bekerja, aku dititipkan ke Nenek, Ibu dari ibuku. Tinggalah aku bersama nenek di rumah kecil kami tanpa bisa menerima kasih sayang dari kedua orang tuaku lagi. Saat aku bangun tidur, ayah dan ibu pasti sudah berangkat bekerja dikarenakan jarak rumah ke tempat kerja mereka yang sangat jauh yang memaksa mereka berangkat lebih pagi demi menghindari keterlambatan. Begitupun saat mereka pulang kerja, pastilah aku sudah terlelap dalam tidur, karena ibu dan ayahku selalu bekerja lembur setiap harinya yang membuat mereka pulang lebih malam dari kebanyakan pekerja lainnya.
Nenekku terbilang cukup galak dan tidak jarang menggunakan kekerasan fisik kepadaku, aku yang baru berusia 8 tahun dituntunnya untuk dewasa dan mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu dan mengepel sementara Nenek sibuk di ladang. Tak ada lagi sarapan telur dadar dan kecap kesukaanku yang selalu ibu buatkan sebelum aku berangkat ke sekolah, kini untuk mengisi perut kosong dipagi hari, aku hanya memakan nasi yang dicampuri garam atau sebongkah ubi rebus buatan nenekku sebelum ia pergi ke ladang.
Di Titik ini, beberapa hal mulai terasa sangat hambar. Senyumanku semakin jarang terlihat, aku pun mulai tumbuh menjadi pribadi yang berbeda.
Bersambung…

Posting Komentar