Apakah kamu pernah mengalaminya?
Mungkin kamu merasa sudah mengerahkan usaha yang terbaik, meskipun kenyataannya itu semua masih belum cukup. Mari kita bicara sedikit mengenai quarter life crisis.
Semoga tulisan ini bisa sedikit mengurai benang kusut dalam diri kita.
Istilah quarter life crisis muncul di tahun 2001 melalui buku karya Alexander Robbins dan Abby Wilner berjudul Quarterlife Crisis: The Unique Challenge in Your Twenties. Secara umum, quarter life crisis merupakan tahap dimana kita bertemu dengan berbagai ketidakpastian, stres, dan pencarian jati diri. Alexander Robbins & Abby Wilner mengatakan kalau hal ini sering dialami
oleh orang berusia 20 an sampai 30. Penyebabnya sangatlah luas. Bisa jadi frustasi karena karier, hubungan, insecurity, peer pressure, stres karena keluarga, dan berbagai alasan lainnya. Sifatnya sangat personal dan tidak bisa dibandingkan.
Sayangnya, kita tidak bisa sepenuhnya mengendalikan aspek yang ada dalam kehidupan kita. Apakah itu masalah, stress, atau konflik. Jonn Kabat-Zin (mindfulness guru) pernah bicara kurang lebih seperti ini: "Kita tidak bisa menghentikan ombak di laut, tapi kita bisa belajar untuk berselancar bersamanya”. Mungkin, kita tidak bisa menghindari fase quarter life crisis. Tapi, kita bisa belajar untuk mengelolanya supaya kita tidak terdampak secara signifikan.
Quarter life crisis tidak terjadi begitu saja. Ada gejala yang muncul, namun sering kita abaikan:
-Turunnya motivasi termasuk untuk hal
yang kita suka
-Perasaan takut tertinggal
-Lelah, stres, atau perasaan depresi
-Sulit mengambil keputusan
-Khawatir mengenai banyak hal
Apa yang perlu kita lakukan? Kita perlu tau kalau secara umum, quarter life crisis terbagi menjadi empat fase:
1. Terjebak
2. Sendiri
3. Refleksi
4. Memahami
1 Teriebak
Kita bisa merasa terjebak, stuck, dan bingung harus berbuat apa karena karier, pendidikan, hubungan, atau keraguan atas keputusan yang kita telah ambil atau perlu kita ambil. Di fase ini, kita perlu belajar untuk
menerima apapun perasaan atau emosi yang terjadi.
2. Sendiri
Untuk memproses badai emosi yang terjadi, kita akan cenderung menarik diri dari lingkungan kerja, teman, atau lingkungan terdekat kita. Kita merasa perlu memahami diri sendiri dan tidak ingin merugikan orang lain. Di fase ini, izinkan dirimu untuk beristirahat dan memproses apa yang telah terjadi. Berikan ruang yang aman dan nyaman supaya kamu bisa mengetahui isi hatimu sebenarnya. Oh iya, tidak perlu tergesa-gesa ya?
3. Refleksi
Setelah memproses berbagai kejadian dan perasaan, kamu bisa menarik benang merah, melihat beberapa pola dan hikmah dari apa yang telah terjadi. Di fase ini, biasanya kita menemukan perasaan munculnya sebuah harapan, ketenangan, dan perlahan solusi muncul begitu saja.
4. Memahami
Akhirnya, kamu menerima fase quarter life crisis sebagai sebuah pengingat. Kita sering mengabaikan diri kita sendiri. Cara biasa tidak akan membuat kita bisa mendengar diri kita. Suara pelan tidak akan terdengar dalam keramaian. Kita perlu menarik orang tersebut ke ruangan yang tenang untuk bisa hadir dan bicara dengannya.
Memahami berarti kita menerima dan mengambil tindakan atau aksi nyata, sebagai resolusi dari keraguan yang sempat terjadi. Tidak cukup hanya dengan menyelesaikan pikiran yang berantakan, beberapa masalah perlu diatasi dengan tindakan. Proses quarter life crisis tidak mudah untuk sebagian orang dan itu normal.
Beberapa hal ini bisa membantumu menghadapi quarter life crisis dengan lebih ringan:
-Lingkungan (keluarga, kerja, sahabat atau pasangan yang suportif)
-Coping mechanism (meditasi, curhat, olahraga)
Saat quarter life crisis tidak dikelola dengan baik, kita bisa terseret arus dan tenggelam bersamanya. Orang lain akan melihat itu sebagai sikap tidak percaya diri, menarik diri, minder atau bahkan depresi. Belum banyak orang yang paham dan bisa mengelola quarter life dengan baik.

Posting Komentar