Kebenaran & Kenyataan

source: healdarked(instagram)


Haqiqah & Waqi'iyah


Setiap sebelum adzan, masjid sebelah memutar murottal Al-Quran surah Al-Kahf. Ada yang menarik dari pengisahan Al-Qur'an tentang para pemuda gua atau Ashabul Kahfi.

Pola pengisahan ini ada di seluruh Al-Quran.


Perlu diketahui bahwa kisah-kisah yang ada di Al-Quran itu bukan kisah yang asing di telinga masyarakat jazirah Arab dan sekitarnya. Bisa dikatakan bahwa Al-Quran mengangkat cerita rakyat setempat.


Kembali ke surah Al-Kahfi. Pada ayat 13 disebutkan, "kami mengisahkan kepadamu kabar tentang mereka dengan kebenaran". Kata "haqq" digunakan pada ayat tersebut.

Ayat ini menegaskan bahwa Tuhan mengisahkan tentang Ashabul Kahfi dengan kebenaran. Akantetapi kalau kita baca ayat-ayat selanjutnya, pengisahan tentang para pemuda gua tidak sebagaimana umumnya cerita, di mana yang terpenting dalam cerita adalah siapa, di mana dan kapan. Sedangkan di surah Al-Kahfi tidak disebutkan nama-nama pemuda gua tersebut.


Waktu kejadian kisah Ashabul Kahfi juga tidak disebutkan, begitu juga latar tempat. Padahal di awal surah ditegaskan bahwa Tuhan mengisahkan tentang Ashabul Kahfi

'dengan kebenaran'. Lalu kebenaran apa yang ingin disampaikan? Disinilah aku berpikir tentang haqiqah dan waqi'iyah.


Kebenaran sebuah kisah itu ada dua.

Kebenaran yang berarti nyata atau tidaknya kisah tersebut yang disebut waqi'iyah dan kebenaran yang berarti haqiqah, yaitu makna, pelajaran, juga intisari dari cerita yang disebut haqiqah.


Bahkan tentang jumlah Ashabul Kahfi, Al-Quran tidak menyebutkan secara jelas yang mana yang benar. Hanya menyebutkan bahwa Tuhan lebih tahu jumlah mereka. Karena Al-Quran lebih menekankan pada segi haqiqah, bukan waqi'iyah.


Kenyataan lebih rinci kisah-kisah di dalam

Al-Quran itu sudah ada di mulut masyarakat. Pertanyaan awal tentang cerita yaitu siapa, kapan dan di mana, sudah banyak diketahui oleh masyarakat.

Al-Quran ingin menyampaikan pemaknaan yang lebih mendalam terhadap cerita.


Pemaknaan yang lebih mendalam itulah hagigah kisah dalam Al-Quran. Kita sebagai pembaca harus menyeberang dari kenyataan ke kebenaran, dari waqi'iyah ke haqiqah. Oleh karena itu, mengambil pelajaran dari cerita disebut ibrah. Ibrah secara kosakata berarti menyeberang. 'Abada ya'budu artinya menyeberang. Bani Israil disebut kaum Ibrani karena Nabi Ibrahim menyeberang sungai Furat atau Eufrat. Ibrah berarti menyeberang dari kenyataan ke kebenaran. Dalam berkisah, Al-Quran selalu menekankan pada kata ibrah.


Ketika membaca kisah-kisah di Al-Quran, secara wagi'iyah kita sedang membaca kisah masa lalu, tetapi secara haqiqah, kita sedang membaca kisah kita sendiri di zaman ini. Itu kalau kita menyeberang dari kenyataan menuju kebenaran.


Kalau kita mencari haqiqah, maka kitab suci adalah kitab yang mengabarkan kepada kita tentang diri kita sendiri, bukan cerita tentang orang-orang di masa lalu.

11 Komentar

  1. Pengalaman berkesan yang tentu tak akan terlupakan hingga kapan pun. Terima kasih sudah berbagi.

    BalasHapus
  2. Semoga trauma itu bisa segera pergi, sehingga dapat melanjutkan hidup lebih baik lagi.

    BalasHapus
  3. Tulisan yang sejenak membuat saya menyelam ke masa SD. saya jadi teringat kakek, yang kadang-kadang saat bada magrib, menempatkan waktu ke rumah. Kadang, kalau bertepatan dengan saya yang lagi mengaji, beliau akan mengawasi saya sambil memastikan pengucapan saya yang kadang sering kurang fasih.

    BalasHapus
  4. Bagus ceritanya. Ga terlalu panjang jg jd suka aja. Feelnya jg kerasa, gmn kerasnya si nenek

    BalasHapus
  5. Terimakasih sudah merangkum masa lalu untuk merajut masa depan yang lebih baik, semoga bisa stop dikamu ya say, agar tidak ada cucu yang merasakan hal yang sama dimasa depan...

    BalasHapus
  6. Ceritanya bagus kak
    Semoga traumanya bisa hilang

    BalasHapus
  7. Semangat kak. Ceritanya bagus. Mungkin paragrafnya bisa dipecah lagi biar lebih enak bacanya.

    BalasHapus
  8. Pengalaman dipaksa baca Al-Qur'an waktu masih kecil yang Kakak tulis di sini... Membangkitkan ingatanku kembali, tentang masa masih SD dulu, yang gak jauh beda sm yg kakak tulis di sini. Btw, semoga traumanya bisa tersembuhkan ya, Kak 🙏🏻

    BalasHapus
  9. penuturannya ngena ya mbak, bikin jadi ingat masa lalu

    BalasHapus
  10. Memang sebagian orang menganggap waktu mangrib itu adalah waktu yang menyeramkan,tetapi tidak apabila kita mempunyai iman yang kuat

    BalasHapus

Posting Komentar